Melayang di Bukit Paralayang Puncak, Bogor

SHARE
Melayang di Bukit Paralayang Puncak, Bogor

Yuk uji nyali dengan melayang di bukit paralayang! Sebuah kegiatan yang selama ini kumasukkan dalam agenda yang harus kulakukan sebagai salah satu cara untuk mengalahkan ketakutanku akan ketinggian. Setelah setahun maju mundur untuk berparalayang, akhirnya pekan ini temanku berhasil kuajak untuk menemani.

Pukul 06.00 dengan menggunakan sepeda motor, kami telah menembus lengangnya jalanan utama kota Bogor dan melaju menuju Puncak. Kurapatkan risleting jaket untuk menghalau rasa dingin yang masih mengurung udara kota Bogor. Sekilas kulihat di telpon genggamku suhu mencapai 20 derajat. Huff… pantas saja dingin seperti di kulkas.

Di puncak pas sebelum masjid At Ta’awun kami berhenti di sebuah warung kopi untuk melepas lelah dan sarapan sekedarnya. Kopi sachet menjadi pilihanku untuk mengurangi rasa dingin yang masih menggigit sedangkan Rista memilih wedang jahe. Beberapa gorengan yang terhidang di meja ikut menyertai kopi dan wedang yang kami minum.

Menjelang pukul 07.00 jalan raya Puncak mulai dipadati oleh orang-orang yang ingin berwisata di sekitar Puncak. Beberapa bus jurusan Bandung lalu lalang sebelum jam buka tutup Puncak diberlakukan untuk mengurangi kemacetan. Kami segera melanjutkan perjalanan karena tidak ingin terperangkap di kemacetan jalur Puncak.

Setelah melewati masjid At Ta’awun kurang lebih 300 meter motor berbelok ke kanan dan memasuki area yang bernama Bukit Paralayang yang berada di kawasan agrowisata (Naringgul) Gunung Mas atau lebih dikenal dengan Bukit Gantolle. Kami harus membayar retribusi per orang Rp.13.000,00 dan Rp.2.000,00 untuk motor atau Rp.3.000,00 untuk mobil di pintu gerbang.

Kami datang sangat awal sehingga para staf dan petugas masih bersiap-siap mengeluarkan perlengkapan dan beberapa persiapan lainnya. Kami disodori sebuah formulir untuk kami baca dan tanda tangani. Formulir ini lebih kepada penjelasan mengenai teknis penerbangan dan kondisi-kondisi yang harus diketahui peserta paralayang sehingga tidak ada tuntutan apapun kepada pihak Bukit Paralayang.

paralayang bogor
Photoright: villabogor.com

 
Setelah menandatangani dan membayar biaya administrasi Rp.350.000,00 kami diberi perlengkapan yang menjadi standar dari Bukit Paralayang berupa helm, ransel besar untuk barang-barang kami dan parasut yang dihandle oleh instruktur. Biaya ini meliputi biaya tandem paralayang bagi pemuladan transportasi dari tempat landing kembali ke bukit ini tempat kendaraan kami parkir di sini. Kami diharuskan menimbang berat badan karena berat badan yang dibolehkan adalah maksimal 85 kg. Sepatu olahraga dan celana yang kami kenakan pagi ini telah sesuai dengan aturan berpakaian yang disarankan.

Instruktur membantu memasangkan perlengkapan dan memberi tahu teknis yang harus dipatuhi ketika di udara. Barang-barang kami dimasukkan ke dalam tas besar yang akan dibawa ketika penerbangan dan tak lupa kamera dan tongkat selfi dipersiapkan sehingga tidak ribet lagi mencari-cari di dalam ransel.

Instruktur tandem sekali lagi memeriksa alat pengaman yang sudah terpasang di badan kami dan ketika semua sudah sesuai prosedur kami berjalan ke arah tanah lapang yang menjadi tempat take off. Aku dan Rista merasa sangat senang dan sedikit deg-degan sementara menunggu giliran. Di depanku sepasang remaja yang juga bertandem sedang menyiapkan kamera untuk bersiap-siap berlari untuk take off. Terdengar teriakan kegembiraan dan sedikit ketakutan dari pasangan tersebut ketika mereka tiba di ujung landasan. Aku dan Rista berpandangan saling menguatkan.

Kemudian tibalah giliran kami. Rista dan tandemnya berlari kecil lebih dulu dan teriakannya membahana ketika kakinya tidak lagi menjejak tanah. Kupejamkan mata sesaat dan kemudian memberi kode kepada instruktur yang ada dibelakangku bahwa aku siap untuk berlari. Dan, teriakan itu sepertinya menjadi refleks setiap peserta paralayang ketika kakinya melayang-layang di udara. Aku pun tak sadar telah berteriak setengah ketakutan karena angin telah mengangkat parasut dan membuat tubuhku melayang di langit dan kakiku bergerak-gerak mencari pijakan.

paralayang puncak
Photoright: sugarandspace.com

 
Instruktur yang menjadi tandemku menanyakan keadaanku untuk memastikan aku tidak shock. Aku menoleh sesaat dan memberi kode dengan tanganku bahwa aku bisa mengatasinya. Karena saat ini perhatianku tertuju pada kebun teh, hotel-hotel dan rumah-rumah penduduk terlihat sangat kecil yang ada di bawah kakiku. Langit Puncak yang cerah dan berangin tertutupi dengan parasut berwarna-warni.

Kamera mulai beraksi dan wajah yang sedikit pucat karena rasa dingin serta helm yang kedodoran menjadi obyek fotoku. Instruktur memberi arahan spot foto yang luar biasa dengan latar belakang hijau dan bangunan yang mirip seperti bangunan pada mainan monopoli.

Setelah kurang lebih 10 menit, terlihat landasan landing dan kudengar instruktur mulai memberi arahan padaku untuk mengangkat kaki dengan posisi lurus horisontal sebelum pendaratan dan tidak terasa tiba-tiba aku sudah terduduk di atas tanah berbantalkan ransel besar. Baru tau seperti ini cara landingnya.

tempat wisata bogor
Photoright: idegemilang.blogspot.com

 
Di lapangan landing kulihat ada jasa foto dari para kru dengan memberi harga satu foto Rp.30.000,00 untuk ukuran 8R atau Rp.5.000,00 untuk soft copy (flashdisk bawa sendiri). Aku memilih softcopy foto kami sebanyak 10 foto untuk kenang-kenangan bahwa aku berhasil mengalahkan ketakutanku ini. Mungkin sertifikat terbang yang diberikan kepada setiap peserta akan aku laminating dan aku tempel di dinding kamar sebagai motivasi bahwa aku bisa melakukan apapun jika aku yakin. What a great flying!

Tertarik untuk menikmati pengalaman seruku di atas? Yuk datang ke Bukit Paralayang Puncak Bogor. Kalau kamu tinggal di luar kota Bogor, kamu bisa pesan hotel dan menginap di sekitar Puncak Bogor dekat tempat wisata ini.

Selamat berlibur!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.